Minggu, 19 Oktober 2014

Susah loh jadi orang tua

Selamat pagi Indonesia bagian kenangan masa lalu mantan! Anggap saja matahari sedang bersiap melintasi permukaan bumi lengkap dengan lini waktu mantan. Hari ini, gue, gina siap bercerita tentang apa saja yang terjadi hari ini. Gak peduli ada yang baca atau enggal. Kalian tetaplah gue paksa baca, xoxoxo.

Sunday is jendelist day out, as usual we're playing and learning something new with the little angels from Turgo Hill. Kali ini, tidak begitu bertema seperti kurikulum sekolah yang semakin membingungkan itu, loh. We're just playing what you like and what you wanna do. Kami bukan sekolah resmi seperti yang seharusnya mereka dapatkan di usia mereka sekarang. Kami hanya mengajak mereka mengetahui yang tidak pernah sekolah berikan.

Jaral tempat kami piknik, bilang saja piknik karena gue merasa sedang punya anak banyak, menggelar taplak meja di rumput dan hahaha hihihi sana kemari. Ada yang sibuk bermain hp, bukan kami tapi adik-adik yang mulai merasakan masa puber. Sibuk ngusilin orang juga ada, kali ini ga usah dibahas yang satu ini. Tapi ada juga yang sudah melewati batasnya sebagai anak. They're doing something bad. Really really bad thing. Harusnya mereka belum mengenal hal seperti itu, namun memang lingkungan mereka yang mengajarkan hal itu.

Mulai janggal ketika anak-anak ini begitu semangat diajak naik ke bukit. Menurut gue ini bukan sikap mereka seperti biasanya. Gue yang menanggapinya tentu senang dong, asalkan mereka gak macem-macem di atas bukit nanti. Segerombolan anak ini sibuk mau ke tempat yang lebih jauh dari anak yang lain. Jauh dari pengawasan kami juga. You know what? They're bring some cigarattes. Mereka lulus SD pun belum. Ironis banget. Di saat orang tua biasanya melarang anaknya menyentuh barang itu. Mereka di sana? Khususnya 1 orang anak yang cukup kami tandai, malah diperbolehkan orang tuanya. Menurut orang tua anak ini, kamu mau minta rokok boleh asalkan kamu mau kerja sama bapak. Ngangon kambing, ngambil rumput dan lain-lain. Tawaran yang lain dari biasanya dong, ya kan?

Kemudian apakabar dengan anak-anak di tempat lain? Yang memang pandangan mereka hanyalah lulus SMP atau SMA kemudian merumput seperti bapak dan ibu. Kenapa harus aku punya cita-cita? Mungkin begitu pikiran mereka. Tapi memang sepenuhnya ini bukan kesalahan anak dong? Jelas-jelas orang tua yang kurang bisa mengajari anak serta lingkungan yang berdampak buruk buat anak. Anak seumuran mereka menurut gue lagi bagus-bagusnya untul dicetak. Dicetak baik apakah buruk. Jadi, gue yang sudah ngebet nikah berpikir ulang lagi. Sudah siapkah jadi sekolah pertama bagi anak? Punya apa untuk mengajari anak?

Because a good family, start from a good mother.
Share: