Minggu, 22 September 2013

oh my full day activities, can you give me a second to breathe please?

Di tengah-tengah keputusasaan gue mengayuh sepeda biru Ruzi dari Fakultas teknik ke sekolah vokasi dilanjut gedung rektorat dan ke teknik lagi eh tapi akhirnya ke kampus gue. Ada keran dana yang mengucur deras ke dompet gue minggu ini. Alhamdulillah…

Cukup dengan ngejual bacot doang sih kalo kasarnya mah, tapi kalo bahasa anak terpelajar sih berbagi dan menginspirasi orang lain gue dapet tambahan uang jajan. What a beautiful day! Makan sejahtera, nambah temen pengalaman ilmu. Ilmu ice breaking. Dan masih buaaaanyak lagi hal-hal diluar skenario. Banyak banget saat saat yang bikin gue selalu berfikir keras mengadukan hati, pikiran dan emosi. Tsah! Sampe sampe gue harus minum multivitamin segala biar gak lemes mondar-mandirnya, biar urat di leher belakang gue ga cepet tegang, biar bahu gue ga kerasa kaku. Saking sibuknya sampe lupa nyuci baju.

Tapi sesungguhnya dari sini 1 hal yang selalu gue coba dan cukup menguras pikiran,
Jangan terlalu cepat berfikiran bahwa seseorang yang bersikap tidak baik itu berarti dia tidak suka kepada kita. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Keadaan ataukah memang kita yang perlu berbenah diri.
Share:

Selasa, 17 September 2013

Can I?

Gue dengan 20 tahunnya kehidupan gue mulai memasuki ke dunia yang harus menuntut kita berdiskusi tentang masa depan. Pekerjaan. Amalan. Pernikahan. Rasanya udah ga ada celah lagi buat gue sekedar bermain-main dan hura-hura menghabiskan uang orang tua. Ada sih tetep ada keinginan buat beli ini itu. Duh gagal fokus deh.

Gue memang bukan anak orang kaya yang punya segalanya yang bisa beli “1 kursi” di pendidikan kedokteran UGM. Tapi seperti quotes yang gue ambil dari sebuah film jepang berjudul “Paradise Kiss”.
Bahwa yang namanya Si pekerja keras bahkan bisa mengalahkan Si jenius.
Kemudian quotes diatas diperkuat oleh statement dari salah satu dosen gue, Bapak M. Arrofiq. Beliau bilang asalkan kita “sabar dan tekun” menjalaninya kita pasti bisa. Kemudian makin kuat ditambah nasehat dari Pak beni GMF yang kalo gue disuruh buka komponen dan agak susah, kemudian gue ngeluh gak bisa, beliau selalu bilang bisa kok bisa ga ada yang susah. And then what happen? Gue bisa. dan ga sesusah yang gue bayangkan.

Dan kesimpulannya adalah apa judul posting kali ini? bukan. maaf lagi lagi gue gagal fokus :3
Silahkan disimpulkan sendiri ya Smile
Share:

Sabtu, 14 September 2013

a change from a chance!

wiwiwidiiih gaya banget gak sih postingan gue akhir-akhir ini ? *gibas rambut* Entah ya, pelajaran di perjalanan hidup itu semakin buanyak aja. Dari mulai tergerak hati gue untuk jadi volunteer di komunitas jendela Jogja, sampai pertanyaan mendalam “kapan seminar KP?”. It’s makjelb till my gall. Tapi, apasih ya a change from a chance itu gue sok2an aja make bahasa enggress biar rada meningkat citra gue di mata readers. Well, manusia yang bisa hidup itu pernah mendapatkan sebuah kesempatan, kesempatan pertama yang Tuhan kasih itu kesempatan untuk lahir di dunia. Bahkan untuk jabang bayi yang belum sempet nongol di dunia setidaknya pernah dikasih kesempatan untuk hadir pada rahim ibunya. Dan tentunya masih banyak algi kesempatan yang pernah diterima manusia di bumi ini. So what?

 

Jadi, seperti yang gue coba translitkan dari judul postingan ini. Gue memperoleh sebuah perubahan dari adanya kesempatan. Berawal sejak gue kerja praktek di PT.Garuda Maintenance Fasility Aeroasia di Bandara International Soekarno Hatta. Ada kesempatan untuk berkumpul dengan 2 orang teman gue yang membawa perubahan untuk gue. Dari mulai bisa khatam Al-Quran di bulan Ramadhan, solat dhuha, solat tahajud and my first I’tikaf. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup gue melakukannya begitu lengkap dari wajib sampai sunnah. Itulah salah satu kesempatan yang Allah kasih.

 

Kemudian perubahan lain yang ada saat gue tinggal di rumah Vida salah satu temen gue ini punya 2 keponakan, yang 1 kelas 5 SD dan 1 lagi masih sekitar 4tahun. Entah kenapa, rasanya anak kecil itu memang harus diberi kasih sayang walaupun gue gak kenal anak kecil itu. Sampai-sampai gue dikasih kesempatan di kereta buat ngasuh batita-batita yang ada di deket gue. Memang berasa pegawai posyandu. Tapi jadi ada niatan buat main dan ketemu terus dengan anak kecil. Berhubung gue sudah semester 5 dan gosipnya sih agak nganggur gitu. Maka gue memberanikan diri untuk menjadi volunteer di Komunitas Jendela Jogja.

 

Ada kesempatan yang menurut gue ini adalah the best a chance. kesempatan bisa kumpul dengan keluarga di Borneo dan lengkap. Ada rasa takut tentunya, takut tahun depan tidak selengkap lebaran tahun ini. So, It’s my big a chance. Perubahannya? Dulu gue termasuk manusia pembangkan terhadap ibu. Setelah semakin jauh jarak rumah dengan tempat kuliah. Semakin terasa apa yang mereka, orang tua, usahakan buat gue bisa berada sejauh ini dari mereka. Akan selalu ada rasa rindu yang menyembul di atas permukaan mata sipit gue yang berbentuk tangisan rindu untuk mereka. Semarah-marahnya ibu dan ayah, gue sekarang selalu berusaha untuk menurut akan apa yang beliau bilang dan perintahkan.

 

Jadi, kesimpulannya adalah :

semua yang Tuhan berikan untuk kita sampai saat ini adalah sebuah rangkaian kesempatan. Hanya kita sendiri yang bisa menggunakan kesempatan tersebut menjadi sebuah perubahan besar untuk hidup kita.

Share:

Kamis, 12 September 2013

Sssssttt

Kali ini gue akan bercerita tentang sesuatu sikap yang banyak dipilih orang untuk menghadapi masalah atau juga untuk menghadapi orang yang ga disukai. Gue bilang lebih tepatnya adalah bukan menghadapi masalah tapi meredam masalah. Tapi jangan salah, kadang sikap ini bisa menghanyutkan juga. Udah banyak sih setau gue orang macem kaya gini, dan gue juga mengakui bahwa gue terkdang bersikap kaya gitu.

DIAM.

Satu sikap itu ada berbagai macam artinya. Diam di depan, tapi di belakang ngoceh yang jelek-jelek itu yang super bahaya. Ada juga yang diam dan menerima dengan selapang-lapangnya jidat gue untuk memaafkan kesalahan atau masalah yang ada. Tapi terkadang menurut gue itu bisa kembali terkuak loh kalo cuma di diemin aja. Kaya kentut yang ga ada bunyinya, diem tapi tiba-tiba ada baunya setelah itu pengen keluar sama isinya. Nah itu. Kalo gue milih diam kalo memang untuk meredam sebentar suasananya, nah baru kemudian gue mengumpulkan keberanian buat ngeluarin semua unek-unek gue ke orang itu tentang masalah kemarin. Seperti yang pernah gue dengar tentang teori menyelesaikan masalah itu ada 4 sikap. Ada EPC yang meredam dulu emosinya dengan dengerin musik atau refreshing. ADA PFC yang mau nyelesein masalah dulu sampai tuntas tas tas. Nah jadi kata trainner gue itu, baiknya adalah dengan melakukan EPC sekaligus FPC. Jadi diredam dulu emosinya lalu secepatnya diselesaikan masalahnya.

Jadi bisa dibilang diam dulu, baru action! Jadi gunakanlah diam seperlunya dan pada waktunya.
Share:

Selasa, 10 September 2013

Apply

Dan gue mencoba untuk apply di salah satu radio kampus tetangga. Niatnya gue cari parttime. Ini hobby gue semasa smp yang kandas di SMA sih. Semoga apa yang gue tawarkan di CV memang yang dibutuhkan ya. Amin

posted from Bloggeroid

Share: