Kamis, 24 Desember 2015

Revisi Mimpi

Gila, jadi sekarang gak cuma laporan skripsi yang direvisi, mimpi gue juga. Semacam mengubah haluan kemana akan gue bawa ujung hidupnya. Dullu, saat masih menggebu - gebu mau ini mau itu dan entah bagaimana belum terwujud pun sudah gue coret list mimpinya. Those aren't my dreams. Hanya euforia. Kemudian gue coba pikirkan ulang, apa yang mau gue capai.
pinterest

Perihal ingin belajar sampai ke benua lain, gue mau. Mau banget. Jika Tuhan dan suami mengizinkan. Jadi ada salah satu mimpi yang gue selipkan di paling atas setelah lulus dan bekerja.

NIKAH

Ini penting, please. Hahaha. Rasanya menikah ibadah paling enak loh, walaupun selalu pada kenyataannya tidak sesuai ekspetasi. Perihal mau ke benua lain, bukannya enak kalo gue kemana-mana sejauh apapun udah ada jemari-jemarinya diantara ruas jemari gue? Ciyailah~

Perihal ingin mengabdi kepada negara, pada akhirnya gue memutuskan tidak harus melalui acara 'itu' untuk bisa mengabdi buat Indonesia. Bahkan bisa bikin sendiri, yekan?

Life goals gue hanya lebih kepada mengurus anak yang akan menjadi investasi terbesar buat gue dan suami gue kelak. Mungkin saat ini cita-cita ibu dan bapaknya belum tercapai, tapi anak - anak gue harus bisa. Revisi abis deh mimpinya. Kebayang gak sih kalo yang terus dikejar-kejar duniawi aja? Padahal semua manusia udah tau pasti kalo dunia hanya sementara. Persis kaya orang yang naik motor udah tau lampu merah itu harus berhenti, tapi masih aja makin kenceng ngegasnya.

Baiklah, 

Selamat merevisi mimpi teman-teman. Jika dirasa belum juga tercapai mimpi-mimpimu, mungkin muara mimpinya salah arah. Coba direvisi :)
Share:

Selasa, 22 Desember 2015

Mini Trip

Pinterest
Hai, setelah mencoba 'kabur' dari kepenatan kota Jogja dan segala kenangannya. Gue memutuskan untuk sedikit berlari ke kota tetangga, kota seribu candi. Bukan itu sih julukan kotanya, gue aja yang ngarang. Rasanya gue ingin menghirup udara yang lebih segar dari biasanya dan suasana bangun pagi yang beda dari biasanya. Ingin merasa seperti anak rumahan yang sudah disediakan sarapan.

Perjalanan yang tidak memakan waktu yang lama, tapi cukup bermakna buat gue yang sedang merasa butuh 'anu' sebagai trigger. Jadi solat cukup tepat waktu. Jadi makan tepat waktu. Tapi mandi tetap sekali dalam sehari. It a must, wkwkwk. 

Pernah gak sih? Merasa di titik yang 'entah gue lagi dimana dan gimana'. Merasa seperti mayat hidup yang bisa berfikir, bisa berbicara, bisa bergerak tapi entah tak memiliki makna. Seringnya merasa sedih, sedih sama 2 orang disana yang habis-habisan banting tulang buat kelakuan gue disebrang sini. Ah, what a shame. Terus harus apa? Harus ngapain? Harus ...

Lingkungan, menurut gue adalah salah satu yang berpengaruh besar. *terus kenapa?*

Ya karena berpengaruh besar, pilihannya cuma dua. Kamu yang dipengaruhi oleh lingkungan atau kamu yang mempengaruhi lingkungan? Nah tapi pilihan paling aman tapi agak susah adalah kamu tetap seperti itu tidak dipengaruhi oleh lingkungan. By the way, gue membicarakan lingkungan yang buruk. Dimana pilihannya kita bertahan atau malah kita yang dipengaruhi oleh lingkungan.

Jadi, gue butuh sedikit pelarian dari lingkungan gue yang biasanya. Untuk sekedar menghirup udara-udara segar yang belum pernah gue hirup sebelumnya. Untuk melihat aktivitas yang belum pernah gue liat dari sebelumnya. Untuk melihat pohon tumbuh semestinya.

Menyenangkan.

Tapi ketika pulang, gue membawa seribu pertanyaan di dalam benak. Sampek gak ngerti harus jawab apa sama benak sendiri. Mbuh~ 
Share:

Selasa, 01 Desember 2015

Gina has back!

Pinterest
Welcome back, gina~~~~~~~

Well, sekian lama memendam rasa, yailah. Akhirnya gue muncul ke permukaan blog juga. Maaf yak, lagi sendu aja bawaannya jadi pengen nulis di buku langsung dan emm nganuu tumblr juga. Sekian bulan sejak posting terakhir di bulan april, begitu banyak yang terjadi dalam hidup gue. Yailah. Serius deh kali ini. Gue bertemu, dipertemukan, ditinggalkan dan meinggalkan orang-orang yang lalu lalang dalam lembaran hidup gue. Bukankah hidup perkara mengulangi sebuah siklus dan mengambil pelajaran disetiap perputarannya? Jadi, kita akan berputar seperti waktu. Harusnya. Mengekor dibelakang waktu. Namun sayangnya manusia bukanlah sebuah ukuran seperti waktu. Bila hanya berjalan memutar saja, apa bedanya dengan hamster pengerat yang berputar di rodanya?

Selesai ah sok memotivasinya, hidupnya masih berantakan gini, hehe. Untuk saat ini, gue merasa kembali pada jaman jahiliyah. Buruk. Sangat buruk. Berasa lagi luka, korengan, digaruk terus kan sakit. Ahsu...dahlah. Mau dicaci maki kaya gimana pun, Tuhan lebih berhak mencaci maki gue umatNya yang hina ini. Allah always better than anything and everything.

Sekian munculnya Gina dari hibernasinya yang panjang.
Share:

Minggu, 19 Oktober 2014

Susah loh jadi orang tua

Selamat pagi Indonesia bagian kenangan masa lalu mantan! Anggap saja matahari sedang bersiap melintasi permukaan bumi lengkap dengan lini waktu mantan. Hari ini, gue, gina siap bercerita tentang apa saja yang terjadi hari ini. Gak peduli ada yang baca atau enggal. Kalian tetaplah gue paksa baca, xoxoxo.

Sunday is jendelist day out, as usual we're playing and learning something new with the little angels from Turgo Hill. Kali ini, tidak begitu bertema seperti kurikulum sekolah yang semakin membingungkan itu, loh. We're just playing what you like and what you wanna do. Kami bukan sekolah resmi seperti yang seharusnya mereka dapatkan di usia mereka sekarang. Kami hanya mengajak mereka mengetahui yang tidak pernah sekolah berikan.

Jaral tempat kami piknik, bilang saja piknik karena gue merasa sedang punya anak banyak, menggelar taplak meja di rumput dan hahaha hihihi sana kemari. Ada yang sibuk bermain hp, bukan kami tapi adik-adik yang mulai merasakan masa puber. Sibuk ngusilin orang juga ada, kali ini ga usah dibahas yang satu ini. Tapi ada juga yang sudah melewati batasnya sebagai anak. They're doing something bad. Really really bad thing. Harusnya mereka belum mengenal hal seperti itu, namun memang lingkungan mereka yang mengajarkan hal itu.

indulgy.com
Mulai janggal ketika anak-anak ini begitu semangat diajak naik ke bukit. Menurut gue ini bukan sikap mereka seperti biasanya. Gue yang menanggapinya tentu senang dong, asalkan mereka gak macem-macem di atas bukit nanti. Segerombolan anak ini sibuk mau ke tempat yang lebih jauh dari anak yang lain. Jauh dari pengawasan kami juga. You know what? They're bring some cigarattes. Mereka lulus SD pun belum. Ironis banget. Di saat orang tua biasanya melarang anaknya menyentuh barang itu. Mereka di sana? Khususnya 1 orang anak yang cukup kami tandai, malah diperbolehkan orang tuanya. Menurut orang tua anak ini, kamu mau minta rokok boleh asalkan kamu mau kerja sama bapak. Ngangon kambing, ngambil rumput dan lain-lain. Tawaran yang lain dari biasanya dong, ya kan?

Kemudian apakabar dengan anak-anak di tempat lain? Yang memang pandangan mereka hanyalah lulus SMP atau SMA kemudian merumput seperti bapak dan ibu. Kenapa harus aku punya cita-cita? Mungkin begitu pikiran mereka. Tapi memang sepenuhnya ini bukan kesalahan anak dong? Jelas-jelas orang tua yang kurang bisa mengajari anak serta lingkungan yang berdampak buruk buat anak. Anak seumuran mereka menurut gue lagi bagus-bagusnya untul dicetak. Dicetak baik apakah buruk. Jadi, gue yang sudah ngebet nikah berpikir ulang lagi. Sudah siapkah jadi sekolah pertama bagi anak? Punya apa untuk mengajari anak?

Because a good family, start from a good mother.
Share:

Selasa, 16 September 2014

Rindu

Pinterest

Di minggu kedua perkuliahan, iya gue kuliah lagi, sore ini gue pulang hingga matahari tak sempat pamit pulang. Crowded everywhere. Senja yang sendu berusaha mengusik kerinduan. Ada sepasang suami istri yang sudah lanjut usia sedang menyebrang jalan sambil mendorong motornya yang mogok. Entah sedang semellow apa gue, yang diingat langsung ke mamah dan abah. Begitulah gue memanggil 2 pahlawan gue ini.

Pernah gak sih ngerasa iba dengan orang tua yang sudah lanjut usia, sedang berjalan dengan berusaha menggerakkan kakiknya yang semakin lemah dan mudah lelah. Just imagine that, itu akan terjadi pada kedua orang tua kita nanti, dan pada akhirnya kita sendiri yang mengalami.

Gue yang baru merantau jauh dari mereka cuma baru 3 tahun udah empet-empetan bangeeeet nahan rindu dari jogja ke pangkalanbun. Apa jadinya kalo mereka sakit gak ada yang ngurusin? Apa jadinya kalo mereka kesusahan gak ada yang nolongin? Apa jadinya apa jadinya apa jadinya banyak banget ketakutan gue. Kalian gitu juga gak sih? Gue, jauh dari orang tua selain yang ditakutkan karena ga ada duit buat makan juga takut tidak sempat menemani mereka saat benar-benar mereka harus "pulang".

Rindu.
Share:

Kamis, 11 September 2014

Dreams

Pinterest
Jika sudah bicara masa depan? Secara otomatis banget mimpi gue melambung - lambung bagai bakso baru matang di dalam air mendidih. Have you planned it? Yatta!

Kenapa harus takut untuk membuat mimpi sendiri? Seperti kalimat klise yang sering orang bilang, langkah pertama untuk mewujudkan mimpimu adalah terbangun! How can we make dreams come true without sleeping? Mimpi ini bukan bunga tidur, gurls!

Tuhan memberikan banyak jalan bahkan dengan gang alternatifnya untuk sampai pada mimpi-mimpi umatnya. Kita, manusia sebagai mahkluk ciptaan Tuhan yang memiliki akal sehat dibebaskan memilih mimpinya sendiri. Analoginya, kita sama-sama terbuat dari tanah dan segumpal darah juga. Maka adalah kebebasan untuk memilih dan memiliki mimpi dan tujuan hidup masing-masing. Don't be afraid to fly away with your dreams. But, the first thing you must to do is awake. Balik lagi ke kalimat tadi.

Banyak yang bilang, jangan ketinggian sih kalo mimpi, nanti ketinggian jatuhnya sakit loh. Tapi ada yang tidak kalah menariknya lagi seseorang bilang, setidaknya jika mimpi kita memang setinggi langit, ketika jatuh kita bisa melihat indahnya bintang di langit itu daripada tidak merasakan sakit sama sekali. Tidak ada tujuan hidup.

Gimana cara gue bisa mempunyai mimpi? Bertemanlah dengan mereka yang memiliki semangat menggapai mimpinya. Sering-seringlah berbagi cerita tentang mimpi-mimpi kalian. Walaupun yang lain merendahkan mimpimu, setidaknya akan ada temanu nanti yang merasa bangga mengenalmu yang berhasil menggapai mimpi itu. Mimpi yang pernah kamu ceritakan kepadanya.
Share:

Selasa, 03 Juni 2014

Menjaga Kehormatan Perempuan

Untuk semua laki-laki, yang kelak akan memiliki seorang perempuan sebagai pendamping semasa hidupnya.

 Sebuah tulisan untuk laki-laki.
Pinterest


Karena saya tahu bagaimana rasanya menjadi laki-laki. Saya menulis ini. Ada satu hal yang mungkin perlu kita (sebagai laki-laki) pahamkan dalam diri kita. Terlepas dari apapun kepercayaan yang kita imani, terlepas dari segala pemahaman hidup kita masing-masing. Sudah menjadi kewajiban laki-laki untuk menjaga kehormatan perempuan. Ini lebih utama daripada sekedar menjaga secara fisik.




Laki-laki dan perempuan diciptakan berbeda dan tidak akan pernah sama. Karena sebagai mana ciptaan Allah yang lain. Semua memiliki peran yang berbeda satu sama lain. Tidak saling tumpang tindih atau menghancurkan, tapi semuanya diciptakan untuk saling melengkapi juga menyeimbangkan. Begitu pula laki-laki dan perempuan.


Dalam agama yang saya imani, ada aturan-aturan dalam interaksi antara laki-laki dan perempuan. Tujuannya pun untuk menjaga kehormatan, tidak hanya salah satu, tapi keduanya. Terlebih islam sangat memuliakan perempuan. 


Apa yang hendak saya sampaikan ini khususnya untuk laki-laki. Dalam interaksi kita kepada perempuan. Kita harus memiliki sikap yang jelas. Ini penting, karena yang kita hadapi tidak hanya perempuan dalam bentuk fisik, tapi juga dalam bentuk perasaan. 


Ketika kita telah mengutarakan niat baik kita kepada perempuan untuk berproses menuju ke jenjang pernikahan. Itu tidak serta merta membuat kita bebas melewati batas, bebas melanggar norma atau aturan. Karena dimata Allah, sejatinya kita bukan siapa-siapa untuk perempuan ini. Ungkapan perasaan kita bukanlah kalimat ijab kabul. Tidak memiliki kekuatan apa-apa dan sangat berisiko melukai perasaan perempuan tersebut bila kita sebagai laki-laki tidak berkomitmen untuk mewujudkannya.


Bila pun saya berproses nanti. Saya berprinsip untuk tidak menyebut nama perempuan yang saya tuju secara sembarangan kepada orang lain ataupun kepada khalayak. Ini menurut saya penting, bukan soal saya tidak mengakuinya. Tapi ini cara saya untuk melindunginya (juga melindungi saya) dari fitnah. Ataupun dari kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di depan. Lindungilah kehormatan perempuan dengan tidak menyebut namanya sembarang. Dengan begitu, sang perempuan akan terjaga baik kehormatan ataupun harga dirinya. Dan perempuan akan lebih percaya kepada laki-laki yang bisa menghormatinya dengan baik, tidak hanya setelah pernikahan, tapi jauh sebelum itu. Seorang ayah pasti marah bila ada laki-laki diluar sana yang dengan sembarang menyebut-nyebut anak perempuannya. 


Rahasiakanlah dengan baik sampai pada waktunya tiba. Meski perempuan memang pada dasarnya ingin diakui, tapi kembalikan pertanyaan itu. Diakui sebagai apa? Allah sendiri belum mengakui, bagaimana seseorang bisa mengklaim dia miliku, atau aku milikmu.


Proses yang baik adalah proses yang melibatkan Allah, tidak hanya dalam wujud doa tapi juga menggunakan apa-apa yang Dia rancang, yang Dia tuntunkan dengan baik. Sepanjang laki-laki dan perempuan bisa menjaga diri, keduanya bisa saling menjaga kehormatan. Maka, Allahlah sejatinya yang akan menjaga keduanya sampai pada waktu yang sudah digariskan keduanya berjalan pada satu jalan yang sama. 


Laki-laki harus punya sikap yang jelas. Dan punya prinsip yang baik. Kata teman saya suatu hari, laki-laki harus bisa mengambil keputusan untuk mengambil jalan mana yang akan ditempuh dan baik kepada perempuan. Sebab perempuan akan selalu lebih bermain perasaannya. 


Godaan terbesar kita sebagai laki-laki adalah perempuan. Maka, berkomunikasilah untuk membuat komitmen agar bisa saling menjaga diri dan menjaga kepercayaan satu sama lain. Bahkan, kesetianmu akan diuji jauh sebelum ia menjadi istri kan?


Selamat menjadi laki-laki.



Rumah, 3 Juni 2014 | (c)kurniawangunadi



Share:

Kamis, 22 Mei 2014

Menjadi inspirasi dan terinspirasi

Minggu lalu, gue diberikan kepercayaan sebagai salah satu panglima yang akan bertemu langsung dengan para prajurit. Senangnya luar biasa, karena pada awal perekrutan panitia bahkan nama gue ga ada di daftar panitia. Kesempatan yang gak ngerti lagi kapan adanya. Berhubung ini tahun terakhir juga buat gue jadi mahasiswa UGM, makanya bersyukur luar biasa sekali. Selain itu, kesempatan menjadi salah satu panglima yang membimbing para prajurit banyak banget yang minat.

Selama 3 hari, gue menjadi panglima di LALC 2014 ini begitu banyak pelajarannya. Karena kepanitiaan yang satu ini beda dari biasanya. Dimana setiap sesi itu terdapat panitia yang berbeda, gak pake seksi konsumsi atau seksi PDD segala. Semua bisa merasakan hal yang sama, bisa jadi gue di tempatkan jadi konsumsi pada sesi pertama, kemudian di sesi berikutnya gue bisa menjadi seorang LO ataupun co-trainer. Panitia yang super fleksibel banget, karena inisiatiflah yang bisa bikin acara ini berjalan.

Salah satu yang mengesankan adalah mereka para prajurit bisa mengingat nama gue, walaupun dengan cara membuli gue. Karena disetiap kejadian dan event, guelah yang selalu mengingat orang bukan sebaliknya hahahaha. Setidaknya mereka mengenal gue dengan suara parau ini. Mereka yang selalu bersemangat setiap diberi tantangan, mereka yang selalu bertanya dan berkomentar disetiap cerita. Bahkan waktu 7 menit untuk setiap orang menceritakan pengalamannya pun begitu kurang saking banyaknya yang ingin mereka bagi. Gue tentunya merasa senang menjadi salah satu panglima yang bisa mendengarkan 9 prajurit bercerita pengalamannya.

Selain itu, bisa bekerja sama dengan orang - orang hebat salah satu keuntungannya. Dulu, gue hanyalah peserta yang mendengarkan beliau menyampaikan materi saja. Sekarang, gue bisa berkoordinasi dan bahkan guyon dengan beliau-beliau ini. Para Jendral, panggilan untuk para trainernya. Empat orang psikolog yang jam terbangnya sudah deras seperti air terjun. Bisa bekerja sama dengan 15 panglima pun adalah salah satu pengalaman yang luar biasa. Karena orang-orang terpilih ini benar-benar sibuknya luar biasa untuk diajak rapat.

Kemudian, saat gue rapat evaluasi 3 hari setelah pelaksanan. Salah satu jendral memberikan masukan untuk setiap panglima. Disitu gue seneng banget, karena bisa diberikan masukan oleh beliau mungkin agak susah halnya bila gue bukan salah satu panglima. Beliau bilang, "untuk Gina, saat kamu bisa menjaga orang yang sakit padahal kamu mau banget kembali ke camp dan nonton malam ekspresi. Tapi kamu tetap menjaga mereka yang sakit di wisma, artinya kamu menerima dan bisa menjaga amanah".

Huaaaaah pokoknya entah disitu gue merasa jadi co trainer yang sekaligus juga jadi orang yang diberikan training. Seneng banget bisa jadi LO sekaligus co-trainer dari mantan rektor UGM periode 2007-2012, Bapak Sudjarwadi. Bisa diberi masukan gratis oleh para psikolog-psikolog hebat. Bisa jadi salah satu nominasi panitia ter-inspirasi dan terheboh pun udah seneng banget. Ditambah gue dinyatakan sebagai panitia ter-baca nominasi karena saking hebohnya gue saat menjadi pembaca nominasi. 
pinterest

Salam Berkarakter, Berbagi dan Menginspirasi!
Share:

Senin, 28 April 2014

Nonton Jathilan

Pagi yang cerah untuk masa depan yang cerah bersama Komunitas Jendela. Komunitas yang ga ada matinya untuk menempuh puluhan kilometer demi menuju benih-benih pemimpin bangsa. Demi terus memupuk senang membaca buku. Demi menyiram benih- benih pemimpin bangsa dengan berjuta kasih sayang dan semangat. Kali ini, gue mendapat giliran sebagai penanggung jawab tema sains dan teknologi. Ciyaaat!

Kegiatannya beda kaya bisanya, yang biasanya indoor sekarang outdoor. Bentuk workshop dan penyampaian materi juga gue bikin jadi beda dari biasanya. Tapi gue bukan mau cerita tentang kegiatannya nih, tapi pengalaman gue untuk pertama kali menonton sebuah pertunjukan tradisional. Sebenernya, pertunjukan ini untuk masyarakat sunda sudah tidak asing lagi. Dalam rangka syukuran atau  ada yang khitanan biasanya mereka mengundang hiburan ini. Tapi apa ini hiburan ? Well, here we go!

Salah satu anak ada yang ngajakin jendelist,
"Mbak, ayoo mbak nanti nonton Jathilan di relokasi".
"Apa itu jathilan?" tanya gue polos.
Pinterest
"Itu loh gin kayak kuda lumping gitu, tar ada yang kesurupan gitu gitu deh", jawab salah satu jendelist.

Oh, jadi kalo istilah sunda itu mereka mau nonton Benjang. Ada yang nari-nari eh lama-lama ada yang kesurupan. Mereka antusias banget, se-antusias gue jadi panitia LALC *cie gitu*. Akhirnya jadilah para jendelist ini mengabulkan permintaan adek-adeknya buat nonton Jathilan. Geratis. Sampek sana, baru mulai musiknya. Mulai manggilnya ? Loh manggil apa?

Jadi konon katanya, kalo ada yang nonton Jathilan ini, pemainnya kesurupan bisa jadi penontonnya pun kesurupan. Dyaaar! langsung pucet dan berusaha mikirin Karjo daripada kesurupan. Memang itu lebih menyenangkan. Ywd c. Waktu gue sampe di depan tempat pertunjukkan, ada beberapa orang lagi duduk tertunduk diantara kuda-kuda lumpingnya sambil menyalakan menyan. You know menyan, yang dibakar mengeluarkan bau yang menyengat. Kata orang itu cara untuk memanggil manggil ruhnya. Mana langit mulai mendung, tapi untung ada bakso tusuk yang cukup mengalihkan perhatian gue. Sejujurnya menyan itu wangi sih, cuma agak horor aja baunya. 

Selesai nih mereka duduk dan tunduk bersama kuda lumpingnya. Mulai itu nyobain cambuknya kenceng banget. Ada yang kasian bapaknya udah keren tapi cambuknya nyangkut mulu ke atas ada tenda gitu. Habis itu gue ngeliat pada disuapin kembang melati orang-orangnya. Gak lama, ada deh bocah-bocah ganteng keluar dengan kostum tarinya itu. Nah setelah mereka nari cukup lama, ada kaya pawangnya gitu sambil bawa cambuk ke arena mereka nari. Jadilah anak anak kecil ini ada yang pingsan. Gak tau itu pingsan beneran apa gimana. Yang jelas berakting kesurupan. sebenernya, puncak acaranya kalo orang dewasa yang nari dan kesurupan. Soalnya mereka bisa sampe makan kaca, buka kelapa pakek gigi doang. Sayangnya awan kelabu mulai menggelayuti siang hari itu. Jadi bubarlah kita sebelum klimaks pertunjukkannya.

Yang gue bikin takjub itu bukan sama pertunjukkannya sih. Tapi karena kemauan anak anak yang seneng bisa liat pertunjukkan tradisional. Gue aja, dinyanyiin lengser wengi antara ngantuk sama takut yang ada. Beda sama mereka yang antusias banget pengen liat pertunjukkannya yang padahal cukup jauh dari rumah.
Share:

Minggu, 20 April 2014

Turgo yang dihujani abu

pinterest
Seperti minggu-minggu sebelumnya, gue dan Jendelist lainnya menempuh belasan mungkin hampir puluhan kilometer hanya untuk bertemu penyemangat kita. Adik-adik Turgo. Pagi sekitar jam 07.15 , gue yang posisinya masih leyeh-leyeh di kamar Mbak Mika, langsung kaget denger kabar kalo Gunung Merapi yang ganteng dan gagah itu lagi batuk. Kemudian apakabar adik-adikku sayang yang di lereng Merapi ? Jadilah, kami memutuskan untuk tetap naik ke Turgo dengan membawa masker untuk adik-adik Turgo. 

Iya, jadi ada hujan abu sekitar jam 6 pagi gitu, dan memang saat gue berangkat kesana jam 08.00 pagi masih hujan abu. Jalanan menuju Turgo mulai memutih, tapi emang tidak setebal 2010 dan Kelud kemarin. Yang jelas, gue masih bisa ngebut karena jarak pandang masih aman. Sesampainya disana, memang sesuai yang gue pikirkan. Gak ada satupun adik-adik Turgo yang datang ke tempat biasa kita belajar. Sebenarnya materi hari ini sangat menarik sekali, tapi apa mau dikata daripada bahaya jadi mungkin mereka ga keluar rumah. kemudian Mas Boy, langsung menginstruksikan untuk jendelistnya berkunjung ke rumah Ketua RT. Ada 4  RT di Turgo. Gue kebagian RT 1 lagi bareng Leila, Agustin, Adi sama Mbak Resti.

Yang penting ada orang yang bisa bahasa Jawa mah aman nih. Setelah kita ngobrol-ngobrol dan ngunjungin rumahnya Linda. Ternyata di Turgo ini hujannya bukan cuma abu, bahkan dengan pasir. How scary! Suara di atas atap pasti nyeremin, sampek ada adik kecil namanya Eris bilang. 
Arum : "Mbak Eris ki nangis loh tadi"
Gue : "Lah ngopo kok nangis?"
Eris : "Wedi aku mbak"
Dia sampek nangis saking takutnya denger suara atap rumahnya dan juga katanya ada suara gemuruh. Adik-adik yang lain bagaimana? Mereka ternyata sedang mengikuti lomba di UII. Syukurlah kalo trnyata mereka gak kenapa-napa. Salah satu tantangan kami sebagai jendelist yang memilih lokasi di dekat Gunung Merapi ini adalah kita gak pernah tau kapan Merapi akan bereaksi. Ada banyak kemungkinan-kemungkinan yang terjadi sama Si Merapi yang pernah berhembus cukup panjang di tahun 2010 ini. Semoga kami, adik-adik kami dan keluarganya selalu dan tetap diberi perlindungan oleh Allah. Amin
Share: