Selasa, 16 September 2014

Rindu

Pinterest

Di minggu kedua perkuliahan, iya gue kuliah lagi, sore ini gue pulang hingga matahari tak sempat pamit pulang. Crowded everywhere. Senja yang sendu berusaha mengusik kerinduan. Ada sepasang suami istri yang sudah lanjut usia sedang menyebrang jalan sambil mendorong motornya yang mogok. Entah sedang semellow apa gue, yang diingat langsung ke mamah dan abah. Begitulah gue memanggil 2 pahlawan gue ini.

Pernah gak sih ngerasa iba dengan orang tua yang sudah lanjut usia, sedang berjalan dengan berusaha menggerakkan kakiknya yang semakin lemah dan mudah lelah. Just imagine that, itu akan terjadi pada kedua orang tua kita nanti, dan pada akhirnya kita sendiri yang mengalami.

Gue yang baru merantau jauh dari mereka cuma baru 3 tahun udah empet-empetan bangeeeet nahan rindu dari jogja ke pangkalanbun. Apa jadinya kalo mereka sakit gak ada yang ngurusin? Apa jadinya kalo mereka kesusahan gak ada yang nolongin? Apa jadinya apa jadinya apa jadinya banyak banget ketakutan gue. Kalian gitu juga gak sih? Gue, jauh dari orang tua selain yang ditakutkan karena ga ada duit buat makan juga takut tidak sempat menemani mereka saat benar-benar mereka harus "pulang".

Rindu.
Share:

Kamis, 11 September 2014

Dreams

Pinterest
Jika sudah bicara masa depan? Secara otomatis banget mimpi gue melambung - lambung bagai bakso baru matang di dalam air mendidih. Have you planned it? Yatta!

Kenapa harus takut untuk membuat mimpi sendiri? Seperti kalimat klise yang sering orang bilang, langkah pertama untuk mewujudkan mimpimu adalah terbangun! How can we make dreams come true without sleeping? Mimpi ini bukan bunga tidur, gurls!

Tuhan memberikan banyak jalan bahkan dengan gang alternatifnya untuk sampai pada mimpi-mimpi umatnya. Kita, manusia sebagai mahkluk ciptaan Tuhan yang memiliki akal sehat dibebaskan memilih mimpinya sendiri. Analoginya, kita sama-sama terbuat dari tanah dan segumpal darah juga. Maka adalah kebebasan untuk memilih dan memiliki mimpi dan tujuan hidup masing-masing. Don't be afraid to fly away with your dreams. But, the first thing you must to do is awake. Balik lagi ke kalimat tadi.

Banyak yang bilang, jangan ketinggian sih kalo mimpi, nanti ketinggian jatuhnya sakit loh. Tapi ada yang tidak kalah menariknya lagi seseorang bilang, setidaknya jika mimpi kita memang setinggi langit, ketika jatuh kita bisa melihat indahnya bintang di langit itu daripada tidak merasakan sakit sama sekali. Tidak ada tujuan hidup.

Gimana cara gue bisa mempunyai mimpi? Bertemanlah dengan mereka yang memiliki semangat menggapai mimpinya. Sering-seringlah berbagi cerita tentang mimpi-mimpi kalian. Walaupun yang lain merendahkan mimpimu, setidaknya akan ada temanu nanti yang merasa bangga mengenalmu yang berhasil menggapai mimpi itu. Mimpi yang pernah kamu ceritakan kepadanya.
Share:

Selasa, 03 Juni 2014

Menjaga Kehormatan Perempuan

Untuk semua laki-laki, yang kelak akan memiliki seorang perempuan sebagai pendamping semasa hidupnya.

 Sebuah tulisan untuk laki-laki.
Pinterest


Karena saya tahu bagaimana rasanya menjadi laki-laki. Saya menulis ini. Ada satu hal yang mungkin perlu kita (sebagai laki-laki) pahamkan dalam diri kita. Terlepas dari apapun kepercayaan yang kita imani, terlepas dari segala pemahaman hidup kita masing-masing. Sudah menjadi kewajiban laki-laki untuk menjaga kehormatan perempuan. Ini lebih utama daripada sekedar menjaga secara fisik.




Laki-laki dan perempuan diciptakan berbeda dan tidak akan pernah sama. Karena sebagai mana ciptaan Allah yang lain. Semua memiliki peran yang berbeda satu sama lain. Tidak saling tumpang tindih atau menghancurkan, tapi semuanya diciptakan untuk saling melengkapi juga menyeimbangkan. Begitu pula laki-laki dan perempuan.


Dalam agama yang saya imani, ada aturan-aturan dalam interaksi antara laki-laki dan perempuan. Tujuannya pun untuk menjaga kehormatan, tidak hanya salah satu, tapi keduanya. Terlebih islam sangat memuliakan perempuan. 


Apa yang hendak saya sampaikan ini khususnya untuk laki-laki. Dalam interaksi kita kepada perempuan. Kita harus memiliki sikap yang jelas. Ini penting, karena yang kita hadapi tidak hanya perempuan dalam bentuk fisik, tapi juga dalam bentuk perasaan. 


Ketika kita telah mengutarakan niat baik kita kepada perempuan untuk berproses menuju ke jenjang pernikahan. Itu tidak serta merta membuat kita bebas melewati batas, bebas melanggar norma atau aturan. Karena dimata Allah, sejatinya kita bukan siapa-siapa untuk perempuan ini. Ungkapan perasaan kita bukanlah kalimat ijab kabul. Tidak memiliki kekuatan apa-apa dan sangat berisiko melukai perasaan perempuan tersebut bila kita sebagai laki-laki tidak berkomitmen untuk mewujudkannya.


Bila pun saya berproses nanti. Saya berprinsip untuk tidak menyebut nama perempuan yang saya tuju secara sembarangan kepada orang lain ataupun kepada khalayak. Ini menurut saya penting, bukan soal saya tidak mengakuinya. Tapi ini cara saya untuk melindunginya (juga melindungi saya) dari fitnah. Ataupun dari kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di depan. Lindungilah kehormatan perempuan dengan tidak menyebut namanya sembarang. Dengan begitu, sang perempuan akan terjaga baik kehormatan ataupun harga dirinya. Dan perempuan akan lebih percaya kepada laki-laki yang bisa menghormatinya dengan baik, tidak hanya setelah pernikahan, tapi jauh sebelum itu. Seorang ayah pasti marah bila ada laki-laki diluar sana yang dengan sembarang menyebut-nyebut anak perempuannya. 


Rahasiakanlah dengan baik sampai pada waktunya tiba. Meski perempuan memang pada dasarnya ingin diakui, tapi kembalikan pertanyaan itu. Diakui sebagai apa? Allah sendiri belum mengakui, bagaimana seseorang bisa mengklaim dia miliku, atau aku milikmu.


Proses yang baik adalah proses yang melibatkan Allah, tidak hanya dalam wujud doa tapi juga menggunakan apa-apa yang Dia rancang, yang Dia tuntunkan dengan baik. Sepanjang laki-laki dan perempuan bisa menjaga diri, keduanya bisa saling menjaga kehormatan. Maka, Allahlah sejatinya yang akan menjaga keduanya sampai pada waktu yang sudah digariskan keduanya berjalan pada satu jalan yang sama. 


Laki-laki harus punya sikap yang jelas. Dan punya prinsip yang baik. Kata teman saya suatu hari, laki-laki harus bisa mengambil keputusan untuk mengambil jalan mana yang akan ditempuh dan baik kepada perempuan. Sebab perempuan akan selalu lebih bermain perasaannya. 


Godaan terbesar kita sebagai laki-laki adalah perempuan. Maka, berkomunikasilah untuk membuat komitmen agar bisa saling menjaga diri dan menjaga kepercayaan satu sama lain. Bahkan, kesetianmu akan diuji jauh sebelum ia menjadi istri kan?


Selamat menjadi laki-laki.



Rumah, 3 Juni 2014 | (c)kurniawangunadi



Share:

Kamis, 22 Mei 2014

Menjadi inspirasi dan terinspirasi

Minggu lalu, gue diberikan kepercayaan sebagai salah satu panglima yang akan bertemu langsung dengan para prajurit. Senangnya luar biasa, karena pada awal perekrutan panitia bahkan nama gue ga ada di daftar panitia. Kesempatan yang gak ngerti lagi kapan adanya. Berhubung ini tahun terakhir juga buat gue jadi mahasiswa UGM, makanya bersyukur luar biasa sekali. Selain itu, kesempatan menjadi salah satu panglima yang membimbing para prajurit banyak banget yang minat.

Selama 3 hari, gue menjadi panglima di LALC 2014 ini begitu banyak pelajarannya. Karena kepanitiaan yang satu ini beda dari biasanya. Dimana setiap sesi itu terdapat panitia yang berbeda, gak pake seksi konsumsi atau seksi PDD segala. Semua bisa merasakan hal yang sama, bisa jadi gue di tempatkan jadi konsumsi pada sesi pertama, kemudian di sesi berikutnya gue bisa menjadi seorang LO ataupun co-trainer. Panitia yang super fleksibel banget, karena inisiatiflah yang bisa bikin acara ini berjalan.

Salah satu yang mengesankan adalah mereka para prajurit bisa mengingat nama gue, walaupun dengan cara membuli gue. Karena disetiap kejadian dan event, guelah yang selalu mengingat orang bukan sebaliknya hahahaha. Setidaknya mereka mengenal gue dengan suara parau ini. Mereka yang selalu bersemangat setiap diberi tantangan, mereka yang selalu bertanya dan berkomentar disetiap cerita. Bahkan waktu 7 menit untuk setiap orang menceritakan pengalamannya pun begitu kurang saking banyaknya yang ingin mereka bagi. Gue tentunya merasa senang menjadi salah satu panglima yang bisa mendengarkan 9 prajurit bercerita pengalamannya.

Selain itu, bisa bekerja sama dengan orang - orang hebat salah satu keuntungannya. Dulu, gue hanyalah peserta yang mendengarkan beliau menyampaikan materi saja. Sekarang, gue bisa berkoordinasi dan bahkan guyon dengan beliau-beliau ini. Para Jendral, panggilan untuk para trainernya. Empat orang psikolog yang jam terbangnya sudah deras seperti air terjun. Bisa bekerja sama dengan 15 panglima pun adalah salah satu pengalaman yang luar biasa. Karena orang-orang terpilih ini benar-benar sibuknya luar biasa untuk diajak rapat.

Kemudian, saat gue rapat evaluasi 3 hari setelah pelaksanan. Salah satu jendral memberikan masukan untuk setiap panglima. Disitu gue seneng banget, karena bisa diberikan masukan oleh beliau mungkin agak susah halnya bila gue bukan salah satu panglima. Beliau bilang, "untuk Gina, saat kamu bisa menjaga orang yang sakit padahal kamu mau banget kembali ke camp dan nonton malam ekspresi. Tapi kamu tetap menjaga mereka yang sakit di wisma, artinya kamu menerima dan bisa menjaga amanah".

Huaaaaah pokoknya entah disitu gue merasa jadi co trainer yang sekaligus juga jadi orang yang diberikan training. Seneng banget bisa jadi LO sekaligus co-trainer dari mantan rektor UGM periode 2007-2012, Bapak Sudjarwadi. Bisa diberi masukan gratis oleh para psikolog-psikolog hebat. Bisa jadi salah satu nominasi panitia ter-inspirasi dan terheboh pun udah seneng banget. Ditambah gue dinyatakan sebagai panitia ter-baca nominasi karena saking hebohnya gue saat menjadi pembaca nominasi. 
pinterest

Salam Berkarakter, Berbagi dan Menginspirasi!
Share:

Senin, 28 April 2014

Nonton Jathilan

Pagi yang cerah untuk masa depan yang cerah bersama Komunitas Jendela. Komunitas yang ga ada matinya untuk menempuh puluhan kilometer demi menuju benih-benih pemimpin bangsa. Demi terus memupuk senang membaca buku. Demi menyiram benih- benih pemimpin bangsa dengan berjuta kasih sayang dan semangat. Kali ini, gue mendapat giliran sebagai penanggung jawab tema sains dan teknologi. Ciyaaat!

Kegiatannya beda kaya bisanya, yang biasanya indoor sekarang outdoor. Bentuk workshop dan penyampaian materi juga gue bikin jadi beda dari biasanya. Tapi gue bukan mau cerita tentang kegiatannya nih, tapi pengalaman gue untuk pertama kali menonton sebuah pertunjukan tradisional. Sebenernya, pertunjukan ini untuk masyarakat sunda sudah tidak asing lagi. Dalam rangka syukuran atau  ada yang khitanan biasanya mereka mengundang hiburan ini. Tapi apa ini hiburan ? Well, here we go!

Salah satu anak ada yang ngajakin jendelist,
"Mbak, ayoo mbak nanti nonton Jathilan di relokasi".
"Apa itu jathilan?" tanya gue polos.
Pinterest
"Itu loh gin kayak kuda lumping gitu, tar ada yang kesurupan gitu gitu deh", jawab salah satu jendelist.

Oh, jadi kalo istilah sunda itu mereka mau nonton Benjang. Ada yang nari-nari eh lama-lama ada yang kesurupan. Mereka antusias banget, se-antusias gue jadi panitia LALC *cie gitu*. Akhirnya jadilah para jendelist ini mengabulkan permintaan adek-adeknya buat nonton Jathilan. Geratis. Sampek sana, baru mulai musiknya. Mulai manggilnya ? Loh manggil apa?

Jadi konon katanya, kalo ada yang nonton Jathilan ini, pemainnya kesurupan bisa jadi penontonnya pun kesurupan. Dyaaar! langsung pucet dan berusaha mikirin Karjo daripada kesurupan. Memang itu lebih menyenangkan. Ywd c. Waktu gue sampe di depan tempat pertunjukkan, ada beberapa orang lagi duduk tertunduk diantara kuda-kuda lumpingnya sambil menyalakan menyan. You know menyan, yang dibakar mengeluarkan bau yang menyengat. Kata orang itu cara untuk memanggil manggil ruhnya. Mana langit mulai mendung, tapi untung ada bakso tusuk yang cukup mengalihkan perhatian gue. Sejujurnya menyan itu wangi sih, cuma agak horor aja baunya. 

Selesai nih mereka duduk dan tunduk bersama kuda lumpingnya. Mulai itu nyobain cambuknya kenceng banget. Ada yang kasian bapaknya udah keren tapi cambuknya nyangkut mulu ke atas ada tenda gitu. Habis itu gue ngeliat pada disuapin kembang melati orang-orangnya. Gak lama, ada deh bocah-bocah ganteng keluar dengan kostum tarinya itu. Nah setelah mereka nari cukup lama, ada kaya pawangnya gitu sambil bawa cambuk ke arena mereka nari. Jadilah anak anak kecil ini ada yang pingsan. Gak tau itu pingsan beneran apa gimana. Yang jelas berakting kesurupan. sebenernya, puncak acaranya kalo orang dewasa yang nari dan kesurupan. Soalnya mereka bisa sampe makan kaca, buka kelapa pakek gigi doang. Sayangnya awan kelabu mulai menggelayuti siang hari itu. Jadi bubarlah kita sebelum klimaks pertunjukkannya.

Yang gue bikin takjub itu bukan sama pertunjukkannya sih. Tapi karena kemauan anak anak yang seneng bisa liat pertunjukkan tradisional. Gue aja, dinyanyiin lengser wengi antara ngantuk sama takut yang ada. Beda sama mereka yang antusias banget pengen liat pertunjukkannya yang padahal cukup jauh dari rumah.
Share:

Minggu, 20 April 2014

Turgo yang dihujani abu

pinterest
Seperti minggu-minggu sebelumnya, gue dan Jendelist lainnya menempuh belasan mungkin hampir puluhan kilometer hanya untuk bertemu penyemangat kita. Adik-adik Turgo. Pagi sekitar jam 07.15 , gue yang posisinya masih leyeh-leyeh di kamar Mbak Mika, langsung kaget denger kabar kalo Gunung Merapi yang ganteng dan gagah itu lagi batuk. Kemudian apakabar adik-adikku sayang yang di lereng Merapi ? Jadilah, kami memutuskan untuk tetap naik ke Turgo dengan membawa masker untuk adik-adik Turgo. 

Iya, jadi ada hujan abu sekitar jam 6 pagi gitu, dan memang saat gue berangkat kesana jam 08.00 pagi masih hujan abu. Jalanan menuju Turgo mulai memutih, tapi emang tidak setebal 2010 dan Kelud kemarin. Yang jelas, gue masih bisa ngebut karena jarak pandang masih aman. Sesampainya disana, memang sesuai yang gue pikirkan. Gak ada satupun adik-adik Turgo yang datang ke tempat biasa kita belajar. Sebenarnya materi hari ini sangat menarik sekali, tapi apa mau dikata daripada bahaya jadi mungkin mereka ga keluar rumah. kemudian Mas Boy, langsung menginstruksikan untuk jendelistnya berkunjung ke rumah Ketua RT. Ada 4  RT di Turgo. Gue kebagian RT 1 lagi bareng Leila, Agustin, Adi sama Mbak Resti.

Yang penting ada orang yang bisa bahasa Jawa mah aman nih. Setelah kita ngobrol-ngobrol dan ngunjungin rumahnya Linda. Ternyata di Turgo ini hujannya bukan cuma abu, bahkan dengan pasir. How scary! Suara di atas atap pasti nyeremin, sampek ada adik kecil namanya Eris bilang. 
Arum : "Mbak Eris ki nangis loh tadi"
Gue : "Lah ngopo kok nangis?"
Eris : "Wedi aku mbak"
Dia sampek nangis saking takutnya denger suara atap rumahnya dan juga katanya ada suara gemuruh. Adik-adik yang lain bagaimana? Mereka ternyata sedang mengikuti lomba di UII. Syukurlah kalo trnyata mereka gak kenapa-napa. Salah satu tantangan kami sebagai jendelist yang memilih lokasi di dekat Gunung Merapi ini adalah kita gak pernah tau kapan Merapi akan bereaksi. Ada banyak kemungkinan-kemungkinan yang terjadi sama Si Merapi yang pernah berhembus cukup panjang di tahun 2010 ini. Semoga kami, adik-adik kami dan keluarganya selalu dan tetap diberi perlindungan oleh Allah. Amin
Share:

Kamis, 10 April 2014

Dear, you. All of You.

Karena waktu memiliki hak yang semena-mena, kitalah yang harus bisa mengikuti, mengerti dan mengejar. Waktu. Kini ia sedang membuat kami kelimpungan dengan deadline. Ya. Kami para calon-calon lulusan diploma 3. 

Teruntuk sahabat gila gue. Gue ini entah temen yang udah sejauh mana kenal dengan kalian semua. Tahun ini, kita berempat, teteh, ruji, vida, gue. Kita sama-sama punya deadline yang sama. Wisuda agustus. MUngkin untuk pendadaran kita punya target yang beda. Ternyata kita udah selama ini ya temenan. Ada yang dari awal kita masuk udah deket. Ada yang pertengahan semester kita baru deket. Mau dari kapanpun kita deket, lo semua ya temen gue.

Gue, Lugina. Bahkan ga ngerti sama apa yang kalian kerjakan untuk bisa menjadi seorang lulusan Diploma. Apa yang kalian bikin, apa yang kalian pelajari, gue ga tau itu apa. Gue cuma tau, ruji magang. Teteh sama vida bikin alat pake sensor. Ternyata kuliah gue selama ini ga bisa bantuin kalian sama sekali. Karena gue sendiri pun kewalahan menyelesaikan tugas akhir gue. Gue sibuk asik sendiri, sibuk semangat sendiri, sibuk dengan dunia gue sendiri. Gue lupa. Gue bahkan ga tau gimana caranya bantuin kalian biar kita sama - sama wisuda bulan Agustus nanti.

Dear, my awesome friends. Maafkan gue yang gak tau seberapa sulitnya masalah yang kalian hadapin. Karena memang gue ga ngerasain itu. Atau mungkin memang gue yang terlalu menganggap itu terlalu enteng. Maaf ya maaf yaa *gaya ehan*. Gue yakin sama kalian, temen-temen gue yang bisa hidup sampai sekarang ini pernah mengalami hal yang terberat di hidupnya. Lebih berat dari membuat alat tugas akhir mungkin. Karena gue tau kalian, adalah gadis - gadis yang kuat, kuat hatinya, kuat badannya, kuat mentalnya. Dan 1 hal yang bisa bikin kalian menjadi orang sekuat itu adalah karena selalu ada doa dari orang tua kalian. Dan tentunya adanya Allah Sang Maha Memberi pertolongan yang bahkan jaraknya lebih dekat dari urat nadi kita sendiri.

Gue sering takut. Takut gue ga bisa lulus tepat waktu. Takut alat gue gagal. Takut pendadaran gue diabisin dosen. Banyak banget gue takutnya. Tapi karena gue takutnya bareng-bareng sama kalian, jadilah gue harus bisa mengerti waktu, mengejar waktu dan menjalani waktu. Jadi, kalo diantara kita yang bahkan untuk melangkah dan memilih jalan pun takut. Pastilah kita akan ada di titik yang itu - itu aja. Stuck.

Terakhir, entah atas dasar apa gue menulis ini. Tapi yang pasti, gue sayang kalian. Gue gak tau gimana caranya untuk bisa cerita sepanjang ini sama kalian. percaya ga gue nulis ini sambil nangis gitu? Karena gue ngerasa gue temen yang ga bisa apa-apa buat kalian. Seperti yang gue tulis di grup WA. Gue ga bisa ngasih solusi yang solutif buat tugas akhir kalian, karena gue pun gak tau apa-apa. Gue cuma bisa ngasih kalian doa dan semangat. Bahkan kalo kalian rasa kata "semangat" dari gue itu gak ngaruh apa-apa, izinkanlah doa - doa yang menyelimuti langkah kesuksesan kalian.
Share:

Senin, 07 April 2014

Body Language

Pinterest
Ini ceritanya waktu gue ke Turgo minggu lalu, lalunya lagi. Apa ya namanya kalo lusa tapi lusanya itu kemaren gitu? Ya udah sih ya. Jadi tema untuk hari itu adalah Anjang sana. Dimana kegiatan ga diadin di ruangan yang biasa kita pake bareng-bareng. Tapi anak - anak dibagi kelompoknya berdasarkan rumahnya. Masuk RT 1, RT 2 RT 3 atau RT 4. Nah gue mendapat tanggung jawab sebagai koordinator di RT 1, RT yang paling deket dengan tempat biasanya kita punya kegiatan. Cerdas!

Hari itu, anak anak dibebaskan memilih buku yang di sukai. Tapi dilihat juga tergantung kelas dan usianya. Di RT 1 ini kita nongki-nongki di teras rumahnya Si Alip jagoan cilik yang seneng banget gangguin kakak-kakaknya kalo lagi baca. Ikut sibuk juga padahal belum bisa baca. Selesai mereka baca, ada 1 evaluasi dari jendelist buat adik-adik Turgo. Biar mereka bener-bener mau baca buku ceritanya kita bikin tantangan dalam bentuk games. Kita hompimpah alaihum gambreng gitu deh, terus yang beda sendiri dia yang harus menceritakan ulang apa yang dia baca. Kemudian yang lain harus dengerin, soalnya nanti ditanyain lagi harus tau apa yang udah diceritain temennya. Oke kita mulai.

Dimulai oleh adik Tia yang kalem, beda jauh sama mbaknya yang bikin ini posting. Tia dapet buku tentang ilmu pengetahuan umum. Tia membacakan kembali apa yang udah dia baca yaitu tentang lapisan - lapisan bumi. Semua pada masang telinga dan wajah merhatiin soalnya takut gak bisa jawab kalo ditanya sama Madam Mika Margareta. Karena ternyata yang dibahas agak rumit untuk mereka, karena range kelas mereka itu sekitar kelas 3 SD kebawah, ada sih yang kelas 6. Jadinya Mbak Mika bacain ulang lagi, biar anak-anak ngerti tentang lapisan bumi.

Satu persatu anak-anak makin berguguran di medan perang. Pada syusah lidahnya waktu mau jawab lapisan yang akhirannya -fer -fer , kelefer. Ada satu pertanyaan yang mbak Mika kasih buat mereka. Disuruh mengurutkan lapisan bumi tapi dari bagian yang terdalam. 

Mbak Mika : Sebutkan lapisan bumi dari bagian yang terdalam?
Anak-anak : ....................
Gue : *nyengir*
Mbak Mika : Dari inti bumi, terus ?
Anak-anak : hmmmmm anu, itu, hmm...
Gue : *nunjuk nunjuk ke jaket yang ada di leher gue*
Gina : Jaket!

Dyaaar! ternyata gue salah memberikan kode! Yang gue maksud itu mantel bumi, bukan jaket bumi. Ketawalah semua denger si Gina jawab dengan polosnya kalo lapisan kedua itu jaket bumi. Hah, gue merasa gagal jadi peraga bahasa. Body Language gue ternyata tidak ada apa-apanya dibanding sebutir debu.
Share:

Minggu, 06 April 2014

Kromo, Ujian Bahasa Dadakan

Agak bingung sama judulnya? Gimana ceritanya gue mengunjungi kehidupan gue sendiri ya. Tapi ini bukan gue, yang dimaksud disini adalah, Gina (gue) yang berkunjung ke kehidupan Gina si kecil dari desa Turgo.

Minggu pagi, seperti biasa gue dan jendelist (panggilan buat relawan Komunitas Jendela) berbagi dengan adik-adik Turgo. Entah Turgo itu kakinya merapi atau siapanya merapi ya. Yang jelas, awal gue kesana itu ngerasa ga ada banget ujung jalannya. Pagi itu gue sampek duluan ke  Turgo sama Leila buat ngambil kunci ruangan yang biasa kita pake. Karena masih sepi anak-anaknya, gue mencoba menjemput ke rumah salah satu adik yang namanya sama kaya gue. Cuma imutan dia dari gue. Iyasih.

Sampek sana, gue ketok nih pintu rumah sambil ngucapin salam. Ada jawaban tapi dari sebelah rumahnya Gina. Gue pikir, memang Gina masih tidur di rumah yang sebelah itu, karena kemaren bilangnya kalo tidur di rumah sebelah. Disinilah ada tantangan gue sebagai pengembara di Kota Yogyakarta. Apa itu ? Have a chit chat using Kromo. You know ya everybody, adalah tantangan untuk berbicara dengan orang yang gak bisa bahasa Indonesia dan dia terus menggunakan bahasa Jawa Kromo. Ditambah yang mengajak gue ngobrol  ini adalah seorang eyang yang sudah begitu rapuh tulangnya, habis giginya. Jadi dia adalah eyangnya Gina. Dimulailah ujian bahasa Kromo ini.

Mbah : Oh.. Mbak! bcdsuagf8363hdfknfjasb58duiaiwowdnka *karena gue ga ngerti sama sekali artinya dan ga inget Mbah bilang apa ke gue*
Gue : Oh uhun mbah, eh Nggeh mbah kulo ........ mau cari Gina, Mbah. Gina nya ada?
Sekian, oke akhirnya gue jujur sama Mbah kalo gue ga bisa bahasa Jawa dan lumayan ngerti sedikit bahasa Jawa. Mbah mungkin gak bisa juga bahasa Indonesia jadinya nggeh nggeh aja. Niatnya mau lanjut jemput yang lain, Mbah maksa gue buat makan semacam comro yang terbuat dari singkong. Kemudian Mbah ini ngambilin gelas, gue jadi ngerasa ngerepotin. Gue pun mencoba bahasa Jawa lagi.
Gue : Aduh mbah, mboten nopo-nopo *sambil ngambil gelas di tangannya mbah* 
Mbah bales gue dengan bahasa Kromo lagi yang gue juga ga ngerti apa. Gue malah mau dibuatin teh manis, gue tolak lagi. Gue minta air putih aja jadinya. Setelah itu Mbah mulai meracik sepah-an dia yang terbuat dari daun sirih, kapur dan lain-lain. Sambil gue ajak ngobrol, kemudian mbah menanyakan 1 hal tentang gue. Ini gak sulit cuma agak rumit.

Mbah : bla bla bla jeneng ?
Gue : ha? nopo mbah? Jeneng? Nama? atau Asal?
Mbah : *sambil bingung* Jeneng?
Gue : oh, kulo Gina Mbah.
Mbah : *masih bingung*
Gue : Nggeh mah, kulo Gina.
Dor! Mbahnya pun baru ngerti kalo nama gue juga Gina. Akhirnya Tuhan, kau mempertemukanku pada satu titik dengan mbah. Gue pun penasaran Mbah berapa umurnya. Ternyata pemirsa dan setanah air, Mbahnya Gina berumur 100 tahun. Subhanallah. Gue langsung berasa mau nangis disitu karena fisiknya dan kemampuannya tidak menggambarkan 100 tahun hidupnya. Mbah cerita kalo dia masih bisa nyangkul, ngasih makan 4 ekor kambingnya. Karena memang gue liat mbah itu masih seger banget badannya deh. Dan rasanya cukup kaget aja, gue mahasiswi yang masih gadis berumur 21 tahun lagi berbicara dengan yang dulunya juga sorang gadis berumur 100 tahun. 79 tahun yang lalu, Mbah ini seumuran gue loh! How amazing!

Tiba saatnya gue mau pamit tapi bingung gimana bilangnya. Akhirnya gue pake bahasa Indonesia aja. Kemudian mbah malah maksa gue biar habisin makannya, disitu ada 5 buah comro lagi. Wuaduh, gue tau ini pasti kaya gini. Soalnya kalo orang Jawa nawarin makan atau minum pasti sedikit maksa. Gue bilang aja acara di PAUD udah mau dimulai. Mbahnya gatau ngomong apa, nadanya kaya gitu. Setangkepnya otak gue adalah. "Haduh mbak udah sih mampir dulu aja kok buru-buru banget". Gitu. Kurang lebih.

Selesailah gue dengan tantangan bahasa Kromo! Jadi semakin termotivasi biar bisa bahasa jawa kromo, biar bisa tau cerita mbahnya sejak jaman dulu.
Share:

Yang Hilang Sewaktu-Waktu

Pinterest
Karena aku mencintai yang sewaktu-waktu pergi, yang sewaktu-waktu diambil. Aku belajar bagaimana caranya melepaskan. Aku belajar bagaimana menyikapi kepergian.

Aku belajar mengosongkan diri dari apapun yang memenuhi. Hingga setiap ruang dalam hati terasa lebih lapang dari biasanya. Lalu mengisinya lagi dengan lebih tertata dan bijaksana.

Karena aku mencintai yang sewaktu-waktu mati, yang sewaktu-waktu harus hilang. Aku belajar tentang kesendirian. Betapa hidup dalam diri sendiri begitu meresahkan.

Aku belajar bagaimana membuat hari-hari terasa lebih lapang. Selalu siap dengan kehilangan. Selalu siap dengan kepergian. Sebab aku, sejatinya, tidak pernah memiliki apa-apa. Tuhan hanya menitipkanmu untuk aku cintai.

Aku khawatir bila aku mencintaimu tidak dengan petunjuk-Nya. Aku takut ketika mencintaimu justru mengundang murka-Nya. Aku sudah berusaha sebaik-baiknya menjaga diri.

reblog from Kurniawan Gunadi
Share: