Senin, 28 April 2014

Nonton Jathilan

Pagi yang cerah untuk masa depan yang cerah bersama Komunitas Jendela. Komunitas yang ga ada matinya untuk menempuh puluhan kilometer demi menuju benih-benih pemimpin bangsa. Demi terus memupuk senang membaca buku. Demi menyiram benih- benih pemimpin bangsa dengan berjuta kasih sayang dan semangat. Kali ini, gue mendapat giliran sebagai penanggung jawab tema sains dan teknologi. Ciyaaat!

Kegiatannya beda kaya bisanya, yang biasanya indoor sekarang outdoor. Bentuk workshop dan penyampaian materi juga gue bikin jadi beda dari biasanya. Tapi gue bukan mau cerita tentang kegiatannya nih, tapi pengalaman gue untuk pertama kali menonton sebuah pertunjukan tradisional. Sebenernya, pertunjukan ini untuk masyarakat sunda sudah tidak asing lagi. Dalam rangka syukuran atau  ada yang khitanan biasanya mereka mengundang hiburan ini. Tapi apa ini hiburan ? Well, here we go!

Salah satu anak ada yang ngajakin jendelist,
"Mbak, ayoo mbak nanti nonton Jathilan di relokasi".
"Apa itu jathilan?" tanya gue polos.
Pinterest
"Itu loh gin kayak kuda lumping gitu, tar ada yang kesurupan gitu gitu deh", jawab salah satu jendelist.

Oh, jadi kalo istilah sunda itu mereka mau nonton Benjang. Ada yang nari-nari eh lama-lama ada yang kesurupan. Mereka antusias banget, se-antusias gue jadi panitia LALC *cie gitu*. Akhirnya jadilah para jendelist ini mengabulkan permintaan adek-adeknya buat nonton Jathilan. Geratis. Sampek sana, baru mulai musiknya. Mulai manggilnya ? Loh manggil apa?

Jadi konon katanya, kalo ada yang nonton Jathilan ini, pemainnya kesurupan bisa jadi penontonnya pun kesurupan. Dyaaar! langsung pucet dan berusaha mikirin Karjo daripada kesurupan. Memang itu lebih menyenangkan. Ywd c. Waktu gue sampe di depan tempat pertunjukkan, ada beberapa orang lagi duduk tertunduk diantara kuda-kuda lumpingnya sambil menyalakan menyan. You know menyan, yang dibakar mengeluarkan bau yang menyengat. Kata orang itu cara untuk memanggil manggil ruhnya. Mana langit mulai mendung, tapi untung ada bakso tusuk yang cukup mengalihkan perhatian gue. Sejujurnya menyan itu wangi sih, cuma agak horor aja baunya. 

Selesai nih mereka duduk dan tunduk bersama kuda lumpingnya. Mulai itu nyobain cambuknya kenceng banget. Ada yang kasian bapaknya udah keren tapi cambuknya nyangkut mulu ke atas ada tenda gitu. Habis itu gue ngeliat pada disuapin kembang melati orang-orangnya. Gak lama, ada deh bocah-bocah ganteng keluar dengan kostum tarinya itu. Nah setelah mereka nari cukup lama, ada kaya pawangnya gitu sambil bawa cambuk ke arena mereka nari. Jadilah anak anak kecil ini ada yang pingsan. Gak tau itu pingsan beneran apa gimana. Yang jelas berakting kesurupan. sebenernya, puncak acaranya kalo orang dewasa yang nari dan kesurupan. Soalnya mereka bisa sampe makan kaca, buka kelapa pakek gigi doang. Sayangnya awan kelabu mulai menggelayuti siang hari itu. Jadi bubarlah kita sebelum klimaks pertunjukkannya.

Yang gue bikin takjub itu bukan sama pertunjukkannya sih. Tapi karena kemauan anak anak yang seneng bisa liat pertunjukkan tradisional. Gue aja, dinyanyiin lengser wengi antara ngantuk sama takut yang ada. Beda sama mereka yang antusias banget pengen liat pertunjukkannya yang padahal cukup jauh dari rumah.
Share:

Minggu, 20 April 2014

Turgo yang dihujani abu

pinterest
Seperti minggu-minggu sebelumnya, gue dan Jendelist lainnya menempuh belasan mungkin hampir puluhan kilometer hanya untuk bertemu penyemangat kita. Adik-adik Turgo. Pagi sekitar jam 07.15 , gue yang posisinya masih leyeh-leyeh di kamar Mbak Mika, langsung kaget denger kabar kalo Gunung Merapi yang ganteng dan gagah itu lagi batuk. Kemudian apakabar adik-adikku sayang yang di lereng Merapi ? Jadilah, kami memutuskan untuk tetap naik ke Turgo dengan membawa masker untuk adik-adik Turgo. 

Iya, jadi ada hujan abu sekitar jam 6 pagi gitu, dan memang saat gue berangkat kesana jam 08.00 pagi masih hujan abu. Jalanan menuju Turgo mulai memutih, tapi emang tidak setebal 2010 dan Kelud kemarin. Yang jelas, gue masih bisa ngebut karena jarak pandang masih aman. Sesampainya disana, memang sesuai yang gue pikirkan. Gak ada satupun adik-adik Turgo yang datang ke tempat biasa kita belajar. Sebenarnya materi hari ini sangat menarik sekali, tapi apa mau dikata daripada bahaya jadi mungkin mereka ga keluar rumah. kemudian Mas Boy, langsung menginstruksikan untuk jendelistnya berkunjung ke rumah Ketua RT. Ada 4  RT di Turgo. Gue kebagian RT 1 lagi bareng Leila, Agustin, Adi sama Mbak Resti.

Yang penting ada orang yang bisa bahasa Jawa mah aman nih. Setelah kita ngobrol-ngobrol dan ngunjungin rumahnya Linda. Ternyata di Turgo ini hujannya bukan cuma abu, bahkan dengan pasir. How scary! Suara di atas atap pasti nyeremin, sampek ada adik kecil namanya Eris bilang. 
Arum : "Mbak Eris ki nangis loh tadi"
Gue : "Lah ngopo kok nangis?"
Eris : "Wedi aku mbak"
Dia sampek nangis saking takutnya denger suara atap rumahnya dan juga katanya ada suara gemuruh. Adik-adik yang lain bagaimana? Mereka ternyata sedang mengikuti lomba di UII. Syukurlah kalo trnyata mereka gak kenapa-napa. Salah satu tantangan kami sebagai jendelist yang memilih lokasi di dekat Gunung Merapi ini adalah kita gak pernah tau kapan Merapi akan bereaksi. Ada banyak kemungkinan-kemungkinan yang terjadi sama Si Merapi yang pernah berhembus cukup panjang di tahun 2010 ini. Semoga kami, adik-adik kami dan keluarganya selalu dan tetap diberi perlindungan oleh Allah. Amin
Share:

Kamis, 10 April 2014

Dear, you. All of You.

Karena waktu memiliki hak yang semena-mena, kitalah yang harus bisa mengikuti, mengerti dan mengejar. Waktu. Kini ia sedang membuat kami kelimpungan dengan deadline. Ya. Kami para calon-calon lulusan diploma 3. 

Teruntuk sahabat gila gue. Gue ini entah temen yang udah sejauh mana kenal dengan kalian semua. Tahun ini, kita berempat, teteh, ruji, vida, gue. Kita sama-sama punya deadline yang sama. Wisuda agustus. MUngkin untuk pendadaran kita punya target yang beda. Ternyata kita udah selama ini ya temenan. Ada yang dari awal kita masuk udah deket. Ada yang pertengahan semester kita baru deket. Mau dari kapanpun kita deket, lo semua ya temen gue.

Gue, Lugina. Bahkan ga ngerti sama apa yang kalian kerjakan untuk bisa menjadi seorang lulusan Diploma. Apa yang kalian bikin, apa yang kalian pelajari, gue ga tau itu apa. Gue cuma tau, ruji magang. Teteh sama vida bikin alat pake sensor. Ternyata kuliah gue selama ini ga bisa bantuin kalian sama sekali. Karena gue sendiri pun kewalahan menyelesaikan tugas akhir gue. Gue sibuk asik sendiri, sibuk semangat sendiri, sibuk dengan dunia gue sendiri. Gue lupa. Gue bahkan ga tau gimana caranya bantuin kalian biar kita sama - sama wisuda bulan Agustus nanti.

Dear, my awesome friends. Maafkan gue yang gak tau seberapa sulitnya masalah yang kalian hadapin. Karena memang gue ga ngerasain itu. Atau mungkin memang gue yang terlalu menganggap itu terlalu enteng. Maaf ya maaf yaa *gaya ehan*. Gue yakin sama kalian, temen-temen gue yang bisa hidup sampai sekarang ini pernah mengalami hal yang terberat di hidupnya. Lebih berat dari membuat alat tugas akhir mungkin. Karena gue tau kalian, adalah gadis - gadis yang kuat, kuat hatinya, kuat badannya, kuat mentalnya. Dan 1 hal yang bisa bikin kalian menjadi orang sekuat itu adalah karena selalu ada doa dari orang tua kalian. Dan tentunya adanya Allah Sang Maha Memberi pertolongan yang bahkan jaraknya lebih dekat dari urat nadi kita sendiri.

Gue sering takut. Takut gue ga bisa lulus tepat waktu. Takut alat gue gagal. Takut pendadaran gue diabisin dosen. Banyak banget gue takutnya. Tapi karena gue takutnya bareng-bareng sama kalian, jadilah gue harus bisa mengerti waktu, mengejar waktu dan menjalani waktu. Jadi, kalo diantara kita yang bahkan untuk melangkah dan memilih jalan pun takut. Pastilah kita akan ada di titik yang itu - itu aja. Stuck.

Terakhir, entah atas dasar apa gue menulis ini. Tapi yang pasti, gue sayang kalian. Gue gak tau gimana caranya untuk bisa cerita sepanjang ini sama kalian. percaya ga gue nulis ini sambil nangis gitu? Karena gue ngerasa gue temen yang ga bisa apa-apa buat kalian. Seperti yang gue tulis di grup WA. Gue ga bisa ngasih solusi yang solutif buat tugas akhir kalian, karena gue pun gak tau apa-apa. Gue cuma bisa ngasih kalian doa dan semangat. Bahkan kalo kalian rasa kata "semangat" dari gue itu gak ngaruh apa-apa, izinkanlah doa - doa yang menyelimuti langkah kesuksesan kalian.
Share:

Senin, 07 April 2014

Body Language

Pinterest
Ini ceritanya waktu gue ke Turgo minggu lalu, lalunya lagi. Apa ya namanya kalo lusa tapi lusanya itu kemaren gitu? Ya udah sih ya. Jadi tema untuk hari itu adalah Anjang sana. Dimana kegiatan ga diadin di ruangan yang biasa kita pake bareng-bareng. Tapi anak - anak dibagi kelompoknya berdasarkan rumahnya. Masuk RT 1, RT 2 RT 3 atau RT 4. Nah gue mendapat tanggung jawab sebagai koordinator di RT 1, RT yang paling deket dengan tempat biasanya kita punya kegiatan. Cerdas!

Hari itu, anak anak dibebaskan memilih buku yang di sukai. Tapi dilihat juga tergantung kelas dan usianya. Di RT 1 ini kita nongki-nongki di teras rumahnya Si Alip jagoan cilik yang seneng banget gangguin kakak-kakaknya kalo lagi baca. Ikut sibuk juga padahal belum bisa baca. Selesai mereka baca, ada 1 evaluasi dari jendelist buat adik-adik Turgo. Biar mereka bener-bener mau baca buku ceritanya kita bikin tantangan dalam bentuk games. Kita hompimpah alaihum gambreng gitu deh, terus yang beda sendiri dia yang harus menceritakan ulang apa yang dia baca. Kemudian yang lain harus dengerin, soalnya nanti ditanyain lagi harus tau apa yang udah diceritain temennya. Oke kita mulai.

Dimulai oleh adik Tia yang kalem, beda jauh sama mbaknya yang bikin ini posting. Tia dapet buku tentang ilmu pengetahuan umum. Tia membacakan kembali apa yang udah dia baca yaitu tentang lapisan - lapisan bumi. Semua pada masang telinga dan wajah merhatiin soalnya takut gak bisa jawab kalo ditanya sama Madam Mika Margareta. Karena ternyata yang dibahas agak rumit untuk mereka, karena range kelas mereka itu sekitar kelas 3 SD kebawah, ada sih yang kelas 6. Jadinya Mbak Mika bacain ulang lagi, biar anak-anak ngerti tentang lapisan bumi.

Satu persatu anak-anak makin berguguran di medan perang. Pada syusah lidahnya waktu mau jawab lapisan yang akhirannya -fer -fer , kelefer. Ada satu pertanyaan yang mbak Mika kasih buat mereka. Disuruh mengurutkan lapisan bumi tapi dari bagian yang terdalam. 

Mbak Mika : Sebutkan lapisan bumi dari bagian yang terdalam?
Anak-anak : ....................
Gue : *nyengir*
Mbak Mika : Dari inti bumi, terus ?
Anak-anak : hmmmmm anu, itu, hmm...
Gue : *nunjuk nunjuk ke jaket yang ada di leher gue*
Gina : Jaket!

Dyaaar! ternyata gue salah memberikan kode! Yang gue maksud itu mantel bumi, bukan jaket bumi. Ketawalah semua denger si Gina jawab dengan polosnya kalo lapisan kedua itu jaket bumi. Hah, gue merasa gagal jadi peraga bahasa. Body Language gue ternyata tidak ada apa-apanya dibanding sebutir debu.
Share:

Minggu, 06 April 2014

Kromo, Ujian Bahasa Dadakan

Agak bingung sama judulnya? Gimana ceritanya gue mengunjungi kehidupan gue sendiri ya. Tapi ini bukan gue, yang dimaksud disini adalah, Gina (gue) yang berkunjung ke kehidupan Gina si kecil dari desa Turgo.

Minggu pagi, seperti biasa gue dan jendelist (panggilan buat relawan Komunitas Jendela) berbagi dengan adik-adik Turgo. Entah Turgo itu kakinya merapi atau siapanya merapi ya. Yang jelas, awal gue kesana itu ngerasa ga ada banget ujung jalannya. Pagi itu gue sampek duluan ke  Turgo sama Leila buat ngambil kunci ruangan yang biasa kita pake. Karena masih sepi anak-anaknya, gue mencoba menjemput ke rumah salah satu adik yang namanya sama kaya gue. Cuma imutan dia dari gue. Iyasih.

Sampek sana, gue ketok nih pintu rumah sambil ngucapin salam. Ada jawaban tapi dari sebelah rumahnya Gina. Gue pikir, memang Gina masih tidur di rumah yang sebelah itu, karena kemaren bilangnya kalo tidur di rumah sebelah. Disinilah ada tantangan gue sebagai pengembara di Kota Yogyakarta. Apa itu ? Have a chit chat using Kromo. You know ya everybody, adalah tantangan untuk berbicara dengan orang yang gak bisa bahasa Indonesia dan dia terus menggunakan bahasa Jawa Kromo. Ditambah yang mengajak gue ngobrol  ini adalah seorang eyang yang sudah begitu rapuh tulangnya, habis giginya. Jadi dia adalah eyangnya Gina. Dimulailah ujian bahasa Kromo ini.

Mbah : Oh.. Mbak! bcdsuagf8363hdfknfjasb58duiaiwowdnka *karena gue ga ngerti sama sekali artinya dan ga inget Mbah bilang apa ke gue*
Gue : Oh uhun mbah, eh Nggeh mbah kulo ........ mau cari Gina, Mbah. Gina nya ada?
Sekian, oke akhirnya gue jujur sama Mbah kalo gue ga bisa bahasa Jawa dan lumayan ngerti sedikit bahasa Jawa. Mbah mungkin gak bisa juga bahasa Indonesia jadinya nggeh nggeh aja. Niatnya mau lanjut jemput yang lain, Mbah maksa gue buat makan semacam comro yang terbuat dari singkong. Kemudian Mbah ini ngambilin gelas, gue jadi ngerasa ngerepotin. Gue pun mencoba bahasa Jawa lagi.
Gue : Aduh mbah, mboten nopo-nopo *sambil ngambil gelas di tangannya mbah* 
Mbah bales gue dengan bahasa Kromo lagi yang gue juga ga ngerti apa. Gue malah mau dibuatin teh manis, gue tolak lagi. Gue minta air putih aja jadinya. Setelah itu Mbah mulai meracik sepah-an dia yang terbuat dari daun sirih, kapur dan lain-lain. Sambil gue ajak ngobrol, kemudian mbah menanyakan 1 hal tentang gue. Ini gak sulit cuma agak rumit.

Mbah : bla bla bla jeneng ?
Gue : ha? nopo mbah? Jeneng? Nama? atau Asal?
Mbah : *sambil bingung* Jeneng?
Gue : oh, kulo Gina Mbah.
Mbah : *masih bingung*
Gue : Nggeh mah, kulo Gina.
Dor! Mbahnya pun baru ngerti kalo nama gue juga Gina. Akhirnya Tuhan, kau mempertemukanku pada satu titik dengan mbah. Gue pun penasaran Mbah berapa umurnya. Ternyata pemirsa dan setanah air, Mbahnya Gina berumur 100 tahun. Subhanallah. Gue langsung berasa mau nangis disitu karena fisiknya dan kemampuannya tidak menggambarkan 100 tahun hidupnya. Mbah cerita kalo dia masih bisa nyangkul, ngasih makan 4 ekor kambingnya. Karena memang gue liat mbah itu masih seger banget badannya deh. Dan rasanya cukup kaget aja, gue mahasiswi yang masih gadis berumur 21 tahun lagi berbicara dengan yang dulunya juga sorang gadis berumur 100 tahun. 79 tahun yang lalu, Mbah ini seumuran gue loh! How amazing!

Tiba saatnya gue mau pamit tapi bingung gimana bilangnya. Akhirnya gue pake bahasa Indonesia aja. Kemudian mbah malah maksa gue biar habisin makannya, disitu ada 5 buah comro lagi. Wuaduh, gue tau ini pasti kaya gini. Soalnya kalo orang Jawa nawarin makan atau minum pasti sedikit maksa. Gue bilang aja acara di PAUD udah mau dimulai. Mbahnya gatau ngomong apa, nadanya kaya gitu. Setangkepnya otak gue adalah. "Haduh mbak udah sih mampir dulu aja kok buru-buru banget". Gitu. Kurang lebih.

Selesailah gue dengan tantangan bahasa Kromo! Jadi semakin termotivasi biar bisa bahasa jawa kromo, biar bisa tau cerita mbahnya sejak jaman dulu.
Share:

Yang Hilang Sewaktu-Waktu

Pinterest
Karena aku mencintai yang sewaktu-waktu pergi, yang sewaktu-waktu diambil. Aku belajar bagaimana caranya melepaskan. Aku belajar bagaimana menyikapi kepergian.

Aku belajar mengosongkan diri dari apapun yang memenuhi. Hingga setiap ruang dalam hati terasa lebih lapang dari biasanya. Lalu mengisinya lagi dengan lebih tertata dan bijaksana.

Karena aku mencintai yang sewaktu-waktu mati, yang sewaktu-waktu harus hilang. Aku belajar tentang kesendirian. Betapa hidup dalam diri sendiri begitu meresahkan.

Aku belajar bagaimana membuat hari-hari terasa lebih lapang. Selalu siap dengan kehilangan. Selalu siap dengan kepergian. Sebab aku, sejatinya, tidak pernah memiliki apa-apa. Tuhan hanya menitipkanmu untuk aku cintai.

Aku khawatir bila aku mencintaimu tidak dengan petunjuk-Nya. Aku takut ketika mencintaimu justru mengundang murka-Nya. Aku sudah berusaha sebaik-baiknya menjaga diri.

reblog from Kurniawan Gunadi
Share:

Kamis, 27 Maret 2014

Maukah Kau Menunggu ?

Pinterest
Matahari pagi selalu sama, perasaan kita tidak. Seperti langit yang berubah sewaktu-waktu. Tidak seperti air yang mengalir. Lebih seperti jalan yang terjal naik turun bergelombang.

Detik berdetik dalam jarak yang sama, perasaan kita tidak. Resah melihat waktu yang terus bergerak semantara diantara kita tidak pernah terjadi pengakuan. Tatap mata bertemu, senyum malu-malu, pura-pura menghindar. Pura-pura bertanya kabar. Merah merona ketika nama terucap.

Aku tahu diantara kita saling menjaga diri. Tidak banyak hal yang bisa aku lakukan selain mendoakanmu. Tidak lebih dari itu. Sebab diantara kita bukanlah siapa-siapa. Perasaan yang kita miliki tidak lantas membuat kita menjadi saling memiliki kan?

Sebab setiap perasaan memerlukan tindakan. Dan tindakan itu haruslah bertujuan. Bila aku menujumu, ingatkan aku untuk berpaling kepada Tuhan lewat matamu. Bertanyalah kabar tentang ibadahku. 

Diantara kita tercipta samudera. Meski pada kenyataannya kita bertemu dan saling sapa setiap hari. Berada dalam satu tempat yang sama. Jarak yang akan hilang dengan beberapa ikrar kata. Dan waktu, seperti kita tahu, tidak pernah bisa diajak berkompromi. Diantara kita tetap diam saja. Aku ingin mengatakan sesuatu tapi malu. Aku malu mengatakannya; maukah kau menungguku?



(c)kurniawangunadi | Bandung, 27 Maret 2014
source : http://kurniawangunadi.tumblr.com/
Share:

What should I do for you ?

Ada sedikit cerita yang mau gue bagi minggu ini. Dan ini baru terasa setelah gue dan dia berada di satu kota, satu ikatan darah tapi bahkan untuk bertemu pun untuk apa. Orang bilang, wajar kalo kalian berantem dari dulu emang kaya gitu sejarahnya. Bahkan gue belum pernah yang namanya rebutan barang sampe gak mau ketemu. Enggak pernah. Biasa aja. Saking biasanya sampek kalo ketemu ya biasa aja. Normalnya, orang yang bertemu dengan saudaranya akan menanyakan kabar, atau gimana sih seharusnya ? Gue sampe gatau harus kaya gimana jadi adik yang benar. Fiyuh...

Berantem ya adalah, cuma paling sering gue aja yang kena marah dia gitu, kena sinis dia. Jadinya biasa aja. Tapi kali ini, mulai kerasa gue gak mau diperlakukan tidak sebagai adik. Nah kek mana ? Sedih aja rasanya ada yang lebih cepat dapat info kakak gue. Well, dia memang lagi ga jomblo tapi ga pacaran juga. Intinya gue gak tau ya? Iya. Tapi, gini ceritanya. Pagi - pagi gue dikabarin sama sebelah kamar kos gue. Dia emang deket sama kakak gue, udah kaya adeknya juga. Dia bilang, kakak gue kakinya keseleo, minta dipijat. Dan Kakak gue bbm temen sebelah kamar gue ini sekitar jam 5 pagi. Kaget dong gue sebagai adek yang normal, sekaligus sedih juga nih. Kenapa ?

Karena gue merasa gagal jadi adik yang baik. Gue merasa gue tidak dipercaya aja. Karena dia lebih memilih temen sebelah kamar gue untuk dimintai tolong. Memang terkadang gue males kalo dimintain tolong sama kakak gue. Tapi masa iya kalo dia sakit ga gue tolongin? adik macem apa dong? Iyalah. Selain itu juga gue sering banget sakit, dan cuma dia yang nolongin gue. Walaupun kadang nolongnya setelah dia dikabarin atau disuruh sama Mamah atau Abah. Tapi kan akhirnya tetep nolongin. Lah gue? dapet kabar aja dari orang lain. Sedihnya.

Apa sih ya menurut orang ini hal sepele banget. Yaudah sih tinggal gue nolongin dia. Tapi gak gitu. Gue sama kakak gue selama ini memang selalu bersikap sama sama dingin. Ejek - ejekan aja ....... Tau deh. Karena emang lebih banyak keselnya daripada pengen ngejeknya. But, the point is I want you to real My Brother. Bukan karena kita sedarah aja. Gue juga pengen jadi beneran adeknya. Yang kadang bikin kesel (sering itu mah), yang minta tolong yang nolongin kakaknya juga. Bisa gak sih ? bisa gak ya ?

Karena, gue sudah berhasil melebur bersama 1 Es, sebut aja itu Mamah gue. Dan orang kedua seperti Es itu ya Kakak gue ini. So, what should I do for you ?
Share:

Minggu, 23 Maret 2014

3 Huruf yang penuh harapan

Hai, I hope great day always comes to my life. Amin. Salah satunya adalah bisa menulis sepagi ini, dengan kondisi badan dan fikiran yang suegeerrrr. Bosen kan kalo nulis cuma malem-malem? Memang sih banyak insiprasinya, tapi di pagi hari juga gak kalah asiknya buat menulis. Senin pagi ini sambil gue nungguin cucian yang lagi di rendam biar rada wangian dikit. Ciye banget gitu gue judulnya rada puitis ya, 3 huruf tapi isinya begitu banyak harapan manusia. Apa coba ?
Do'a
weheartit
DIbalik kata Do'a itu memang menyimpan banyak harapan dan keinginan kan. DI setiap habis solat malam, gue selalu membuat cara doa ini anti mainstream. Tapi ya tetap dengan ajaran islam. Gue selalu mencoba untuk berdoa seperti orang yang seang tsurhat gitu. Karena di sepertiga malam itu, rasanya cuma ada gue dan Tuhan aja. Jadi bayangpun gimana seneng dan asiknya bisa bercerita banyak dengan Sang Maha Kuasa. Karena terkadang ada beberapa do'a yang ga bisa gue lafalkan dengan bahasa arab. Ya mungkin karena gue pada dasarnya belum belajar aja.

Eh tapi tapi ya, pada pernah ngerasain belum sih kekuatan dari sebuah do'a ? Kalo ditanya gitu, jelas pernah. Kamu, bisa sehat seperti sekarang dan bisa kuliah kaya gitu kalo bukan dari do'a apalagi dong ? Iyalah, itu do'a orang tua.

*ini serius ya* Sejak gue sudah mencoba solat malam, memang ada kenikmatan quality time untuk berdoa. Biasanya gue hanya sibuk dan terburu-buru dengan masalah duniawi terus, lupa sama yang sudah ngasih jalan selama hidup di dunia. Do'a memang perantara antara keinginan dan kehendak Allah. Dulu gue sempat mengacuhkan berdo'a. Untuk apa ? emang yakin dikabulkan? ngapain doa? Dan seketika Allah dengan kekuatannya mencubit kecil gue. 

Ternyata, apa yang kita minta memang belum tentu adalah yang terbaik buat hidup kita. Yang Maha Mengetahui memang lebih tau mana yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Klise. Tapi terkadang masih banyak yang susah mengerti kalimat barusan. Berdo'alah dengan caramu sendiri kepada Allah. Dengan begitu, apapun keputusan Allah pasti kita tau jawabannya. Dan hanya Tuhanmu yang pantas untuk dimintai bantuan dan pertolongan. Bahkan dimintai kebahagiaan pun, jika Dia mengijinkan, terjadilah.

Jadi, masih gak yakin sama do'a - do'a yang kamu ucapkan setiap harinya ?
Share:

Karena Aku Mencintaimu

Holla! sebenarnya gue sedikit penasaran dengan puisi yang satu ini. Yang gue tau ada membuat sebuah note di akun jejaring sosialmu. Dan itu terlihat begitu lampau karena dari cara pengetikan masih masa-masa remaja dulu. Tapi, memang kalo dibaca berulang, ingin sekali rasanya ada yang memperlakukan gue persis seperti di puisi ini. Karena pada dasarnya cinta dari Sang Pencipta, dan seharusnya tidak ada yang bisa kita lakukan dengan lawan jenis yang kita sayangi sebelum ijab sah itu ada *ahzeeeeg. Jadi, gini nih isi puisinya ...
Pinterest

Karena Aku Mencintaimu 
Wahai Ukhti…
Karena aku mencintaimu, maka aku ingin menjagamu
Karena aku mencintaimu, aku tak ingin terlalu dekat denganmu
Karena aku mencintaimu, aku tak ingin menyakitimu
Karena cintaku padamu,
Tak akan kubiarkan cermin hatimu menjadi buram
Tak akan kubiarkan telaga jiwamu menjadi keruh
Tak akan kubiarkan perisai qolbumu menjadi retak, bahkan pecah
Karena cinta ini,
Ku tak ingin mengusik ketentraman batinmu,
Ku tak ingin mempesonamu,
Ku tak ingin membuatmu simpati dan kagum,
Atau pun menaruh harap padaku.
Maka biarlah…
Aku bersikap tegas padamu,
Biarlah aku seolah acuh tak memperhatikanmu,
Biarkan aku bersikap dingin,
Tidak mengapa kau tidak menyukai aku,
Bahkan membenciku sekali pun, tidak masalah bagiku….
Semua itu karena aku mencintaimu,
Demi keselamatanmu,
Demi kemuliaanmu.

Amin Ya Rabb.
Share: